//
you're reading...
Artikel & Berita Pendidikan

Bukan karena biaya Sekolah mahal Mereka ga sekolah.

Bukan hal baru ketika aku mendengar pidato sambutan kepala SMPN 1 Wanayasa dalam acara Wisuda siswa tahun 2015 lalu, bahwa angka melanjutkan sekolah di Kecamatan Wanayasa menduduki urutan nomor 3 dari bawah.
Kenapa bagi saya bukan hal baru?, sebab sejak saya menjadi guru di SMKN 1 Wanayasa setiap tahun saya bersama teman-teman guru bergerilya mencari siswa baru. Bahkan saya lakukan sampai dor to dor untuk memberikan motivasi pada orang tua agar anaknya melanjutkan, tapi hasilnya selalu jauh dari perkiraan. Saya pernah mencoba menghitung jumlah alumni TingKat SLTP dari 7 Sekolahan di kecamatan Wanayasa, kurang lebih ada 350 anak. Akan tetapi, data siswa yang masuk ke SMKN 1 Wanayasa dari kecamatan wanayasa hanya 40 anak. Mungkin sisanya melanjutkan ke sekolah lain?. Ternyata tidak juga, sebab di kawasan banjarnegara bagian utara (6 Kecamatan) hanya ada 8 sekolah tingkat SLTA, itupun siswa terbanyak hanya di SMAN karangkobar (tidak lebih dari 100 anak yang berasal dari kecamatan Wanayasa). Sisanya benar-benar tidak melanjutkan Sekolah.
Dari pengalaman saya berinteraksi dengan orangtua/wali ketika bersosialisasi paling tidak ada beberapa alasan mereka untuk tidak melanjutkan:
1. Khusus anak perempuan, orangtua lebih memilih untuk menikahkan mereka di usia dini (masih membudaya)
2. Kalau ga menikah, mereka mengirim anaknya untukjadi pembantu rumah tangga di Jakarta/kota besar lainnya.
3. Khusus anak laki-laki, orangtua lebih suka mereka langsung bekerja buruh di kebun sayur / kentang dengan ongkos 35.000/hari. atau merumput buat pakan ternak milik orangtua.

Pada awalnya saya berpikiran bahwa alasan mereka tidak melanjutkan adalah karena biaya sekolah mahal. Tetapi setelah saya bertahun-tahun berinteraksi dengan mereka, ternyata bukan itu alsannya. Terbukti, pada tahun ajaran 2015/2016 SMKN 1 Wanayasa membuka program gratis SPP selama 3 tahun + biaya daftar ulang dll, untuk jurusan Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR). Tetapi yang berminat hanya sekitar 16 Anak (tahun 2014) dan 20 anak (tahun 2015). Dengan segala alasan mereka (orangtua) seolah mempertahankan anaknya untuk tidak melanjutkan, padahal mereka (anaknya) sebenarnya ingin melanjutkan sekolah. Kita juga tidak bisa menyalahkan pendirian anak yang masih tergantung pada orangtua. Sebab seberapa besar semangat anak untuk melanjutkan jika orangtua/wali tidak mengijinkan, anak tidak bisa apa-apa.
Memang, bagi orang-orang daerah pegunungan di dataran tinggi dieng (kecamatan Batur, Wanayasa, Pejawaran, Karangkobar, kalibening, Pandanarum) yang bermata pencaharian berkebun, melanjutkan sekolah belum berarti. Asal anak mereka sudah bisa membaca dan menulis (lulus SD) sudah cukup untuk bekal hidup. Selanjutnya tinggal melatih anak-anaknya mencangkul di ladang atau merumput buat pakan ternak. Kemudian kalau usia sudah lebih dari 17 tahun mereka (anak laki-laki) sudah pandai mencangkul, merumput dan siap menikah. Anak gadisnya, ketika sudah kelihatan mekar, tak peduli usianya baru 14 tahun, kalau ada yang melamar dan mau, berlanjutlah mereka ke jenjang pernikahan.
Mau apa lagi?. Melanjutkan sekolah hanya menambah anggaran rumah tangga dan akan menunda pernikahan (bagi anak perempuan).

Beberapa hari yang lalu saya bersama Andi Eko Atmaja (salah satu TU di SMKn 1 Wanayasa) berkunjung ke rumah seorang alumni dari SMPN 4 Wanayasa. Guru-guru SMPN 4 merekomendasikan anak tersebut untuk melanjutkan ke SMKN 1 Wanayasa karena Dia termasuk anak berprestasi. Dan saya sebagai Paniti PPDB seksi Humas datang mengunjungi rumahnya, untuk memonitoring apakah Dia layak dapat bantuan atau tidak. Rumahnya bagus,permanen, berkeramik, besar, punya warung sembako, punya ternak sapi, dan anak perempuan tersebut tinggal satu-satunya, karena kakanya sudah menikah sehingga hanya tinggal bertiga. Begitu aku ketemu dengan anaknya dan ibunya, saya menyampaikan maksud kedatangannya. Sempat terbersit perasaan berbinar penuh harapan pada wajahnya, namun ketika ibunya menjelaskan dengan tegas bahwa anaknya tidak akan disekolahkan, harapan itu sirna dari wajahnya, hanya tersisa wajah ketidakberdayaan seorang anak gadis kecil desa yang harus tunduk pada semua perintah orangtuanya. Dalam benakku bertanya? apa kira-kira target rencana ke depan sehingga anaknya g perlu sekolah?. Hanya hanya mengira-kira anknya akan disuruh jadi penjaga warung sembako saja, toh dia anak pandai pasti pandai menghitung juga, kemudian kalau sudah ada yang melamar langsung saja di nikahkan.Ada tiga anak yang saya kunjungi hari itu yang bernasib sama dengan adik kita ini.
Yang membuat saya agak optimis adalah ketika saya berkunjung ke sebuah rumah yang hampir reyot dan berantakan karena sempitnya ruangan di rumah tersebut tinggal 2 keluarga, anak pertamanya sudah berkeluarga dan masih tinggal bersama di rumah tersebut. Ada dua anak kakak beradik lulusan SMPN 4 Wanayasa yang katanya berminat melanjutkan. Aku ketemu dengan dua kakak adik tersebut, dan ternyata betul, dari sorot matanya yang tajam menunjukan semangat hidupnya. Terang-terangan dihadapan saya kedua orangtuanya sudah pasrah untuk masalah nasib kedua anaknya mengingat faktor ekonomi, tetapi kalau ada yang mau membantu (biaya melanjutkan sekolah) Dia siap mendukung sepenuhnya dan sebisanya. Ahirnya, setelah kami berkonsultasi dengan teman-teman panitia dan Kepala sekolah, kami memutuskan untuk menanggung seluruh biaya pendidikan kedua kaka beradik tersebut, dengan catatan tidak putus di tengah jalan / tidak menikah.

About Jalil

Guru Kimia SMKN 1 Wanayasa Banjarnegara Jawa Tengah Indonesia

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ingat!!!

Author

Mari Berilmu Amaliah & Beramal Ilmiah!

%d blogger menyukai ini: