//
you're reading...
Artikel & Berita Pendidikan

SMK Pertanian :Garda terdepan di negara Agraris

“Kalau saja bukan Sekolah Negeri mungkin SMK ini mending ditutup”, begitulah celoteh seorang teman guru yang putus asa di setiap awal tahun pelajaran baru. Sebuah SMK yang didirikan di tengah areal perkebunan sayur di pegunungan Dieng Banjarnegara tentunya sangat ideal jika jurusan yang dibuka adalah jurusan Budidaya Ternak dan Teknologi Hasil Pertanian. Tapi, mengapa dari sekian banyak lulusan SMP yang masuk ke SMK tersebut tidak lebih dari seratus?

Memang Ironis, di negara agraris seperti Indonesia masyarakat punya perasaan rendah ketika bekerja di sektor pertanian, anak-anaknya ” dilarang sekolah pertanian” dengan dalih “untuk jadi tukang mencangkul saja, mengapa harus sekolah?”. Alasan mereka ini tidak mengada-ada, saya mendapatkan pepatah tersebut langsung dari masyarakat ketika sedang mensosialisasikan sekolah kami (SMK jurusan pertanian). Seolah-olah dalam benak mereka para orang tua berkata, “Nak, biarkan saya terlanjur jadi petani, tapi kamu jangan!, kamu masih punya kesempatan untuk jadi Dokter, jadi Guru, jadi Pegawai kantor atau yang lainnya asal jangan jadi petanai seperti saya”

Saya tidak bermaksud menyalahkan orang tua mereka atau siapapun yang tidak tertarik dengan jurusan pertanian. Alasan mereka bisa saja diterima. Saya hanya ingin berbagi fakta bahwa hari-hari ini negara agraris kita masih mengimpor beras, masih mengimpor sapi Australia, masing menjadi lahan pemasaran buah-buahan Cina yang kini semakin berceceran disetiap kota-kota kecil. Sementara publik dibuat terkesima dengan mobil eSeMKa, laptop eSeMka, meskipun itu hanya rakitan saja. Sampai disinipun saya tidak menyalahkan siapapun juga, meskipun sampai hari ini peminat jurusan Automotif dan Komputer masih Booming.

Mengapa masyarakat berpikiran seperti di atas?mengapa lulusan SMP mengidolakan jurusan Automotif dan Komputer, informatika, elektronika dan apriori dengan jurusan yang berbau pertanian?

Bagaimanapun kecenderungan-kecenderungan tersebut merupakan hasil dari informasi yang sampai ke masyarakat tentang apa sesungguhnya arti kemajuan zaman. Masyarakat sudah terlanjur mengartikan teknologi “secara tidak utuh” sebagai sesuatu yang berkaitan dengan automotif, informatika dan elektronika (Suara merdeka, 24 maret 20120). Dalam hal ini pun masyarakat tidak bisa disalahkan, karena pemasyarakatan teknologi sudah mestinya menjadi domain tanggung jawab pemerintah.

Jangan-jangan ada kegagalan negara dalam membangun paradigma pembangunan yang mestinya dikorelasikan dengan sumber daya alam yang agraris ini. jangan-jangan negara tidak berhasil atau bahkan tidak ada keniatan untuk serius memasarakatkan konsep bahwa negara kita adalah negararis. Faktanya, konsep “Bali Ndesa, Mbangun Ndesa” (pulang ke desa, membangun desa), yang dijadikan slogan gubernur Jateng sampai saat ini belum mampu merubah pola pikir masyarakat. Sebuah slogan yang tidak dibarengi dengan mempersiapkan sumber daya manusia pada akhirnya hanya akan menjadi slogan sesaat yang hanya kedengaran di pidato-pidato politik untuk pencitraan diri. Sudah saatnya pemerintah negara yang punya kebijakan, segera bertindak sebelum semua yang kita makan adalah produk impor.

About Jalil

Guru Kimia SMKN 1 Wanayasa Banjarnegara Jawa Tengah Indonesia

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ingat!!!

Author

Mari Berilmu Amaliah & Beramal Ilmiah!

%d blogger menyukai ini: