//
you're reading...
Artikel & Berita Pendidikan

Ada Apa dengan Pendidikan Karakter?

Akhir-akhir ini sejak dikeluarkannya UU sisdiknas tahun2003 di dunia pendidikan Indonesia ramai membicarakan pendidikan karakter. Lebih-lebih pada peringatan hardiknas tahun 2011 yang lalu, upaya pencanangan “pendidikan karakter” bergema di mana-mana. Ada Apa sebenarnya, sehingga hampir semua manusiayang terlibat dalam pendidikan formal dinegeri kita mulai dari mendiknas sampai para guru sepertidi tuntut membuka kamus untuk mencari arti “pendidikan karakter”?

Sebagi bagian dari komunitas pendidik di negeri ini saya turut bersyukur dan mendukung secara moral gerakan tersebut. Dukungan ini tidak lain karena saya sependapat bahwa pendidikan tanpa melibatkan perubahan karakter hanya akan menghasilkan alumni-alumni yang kaya akan pengetahuan dan keterampilan tetapi miskin dari karakter positif.
Namun yang sampai saat ini menjadi pertanyaan dalam hati saya. mengapa kok baru sekarang gema pendidikan karakter baru didengungkan akhir-akhir ini? Apakah selama kurun waktu sebelumnya pendidikan kita tidak mengenal pendidikan karakter? Apakah karena tidak adanya pencanangan pendidikan karakter sejak dahulu yang menjadikan pendidikan kita banyak menghasilkan manusia yang pintar memanipulasi, pintar korupsi, pintar kolusi dan sekian banyak kepintaran yang menyebabkan bobroknya negeri ini? Apakah kita, yang sekarang beramai-ramai berbicara tentang pendidikan karakter, hanya terjebak oleh istilah “pendidikan karakter” yang terkesan lebih intelek? padahal sebenarnya kita sejak zaman dahulu sudah melaksanakannnya?
Makna Pendidikan
Sebenarnya tidak sulit untuk mendefinisikan pendidikan. Masyarakat secara umum seringkali memiliki definisi tentang pendidikan. ketika ada seorang mahasiswa/pelajar tidak punya sopan-santun di masyaraka, secara mudah orang akan mengatakan bahwa mahasiswa/pelajar tersebut tidak terdidik. Mungkin anda juga sering melihat/mendengar penilain-penilain langsung dari masyarakat berkaitan dengan itu. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat menginginkan bahwa output pendidikan tidak lain adalah adanya perubahan sikap, etika, tingkah laku dan sopan-santun sehingga akan tampak berbeda antara orangyang terdidik dan yang tidak terdidik. mudah bukan?
Mengapa demikian?
Karena masyarakat memandang bahwa sistem pendidikan asli indonesi warisan leluhur yang dahulu terwadahi dalam padepokan-padepokan, pelajaran utamanya adalah ajaran luhur, yang standar kompetensi lulusannya adalah keluhuran budi. Model pendidikan seperti inilah yang sampai saat ini diwariskan pada pondok-pondok pesantren, majelis-majelis taklim, pengajian-pengajian dan pendidikan di keluarga, yang semua itu terkategori sebagai pendidikan nonformal atau informal.
Oleh karena itu menurut pemikiran saya, munculnya istilah “pendidikan karakter” dalam pendidikan nonformal dilatarbelakangi oleh:
1. pendidikan formal gagal menghasilkan output manusia yang berbudi, meskipun sukses menjadikan otak anak-anak bangsa sekels otak Habibie. sehingga generasi yang terbentuk adalah generasi culas. Hampir dimana-mana kita kesulitan mencari orang jujur, orang bersih, orang yang mampu membedakan mana yang haknya dan mana yang bukan haknya.
2. Pendidikan formal telah terreduksi (mengalami pendangkalan makna) hanya sebagai sistem yang mampu meningkatkan aspek kognitif, psikomotoris dan afektif. Sehingga yang menjadi parameter utama dalam evaluasi pendidikan adalah prestasi akademik.
bersambung…

About Jalil

Guru Kimia SMKN 1 Wanayasa Banjarnegara Jawa Tengah Indonesia

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ingat!!!

Author

Mari Berilmu Amaliah & Beramal Ilmiah!

%d blogger menyukai ini: