//
you're reading...
Artikel & Berita Pendidikan

Mari Beramal Ilmiah dan Berilmu Amaliah

Mari Berilmu Amaliah dan Beramal Ilmiah

Disampaikan dalam Pesantren Ramadlan (18-20 Romadlon)1432 H di SMKN 1 Wanayasa

 Pengantar

Satu Hari sebelum Acara Pesantren Romadlon di SMK N 1 Wanayasa ini di mulai, Bangsa Indonesia telah mealewatkan massa yang paling bersejarah 66 Tahun yang lalu. Tepat tanggal 17 Agustus 1945 para pendahulu kita merayakan “kemerdekaan” yang dicita-citakan. Bahwa Kemerdekaan itu bukanlah pemberian jepang, melainkan kristalisasi keringat dan darah selama kurang lebih 350 tahun. Diawali dari perjuangan fisik bertahun-tahun sampai perjuangan diplomatic yang tak pernah kenal menyerah telah dilakukan oleh “pendahulu” kita. Mereka berjuang dengan mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu yang mereka miliki. Tanpa ilmu, mustahil kemerdekaan itu diraih, mungkin selamanya akan tetap menjadi buadak-budak di kampung halaman sendiri.

Tepat pula satu hari yang lalu kita telah melewati puasa Romadlon hari ke-17 1432 H. Hari yang malamnya di sebut sebagai malam nuzulul qur,an, yaitu malam pertama kalinya Allah SWT menurunkan al’quranul karim sebagai pegangan umat muslim. Melalui malaikat jibril Allah SWT mewahyukan surat Al’alaq 1-5.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤

عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥

Artinya : ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.” (QS. Al A’laq : 1 – 5)

Tanpa bermaksud menghubungkan dua peristiwa agung tersebut (meskipun ada sumber yang mengatakan bahwa 17 agustus 1945 bertepatan    dengan 17 romadlon 1342 H), saya mencoba menggaris bawahi untuk disampaikan pada diskusi ini, bahwa kemerdekaan ini takkan tercapai tanpa ilmu, dan dengan ilmu kita akan mengisi kemerdekaan ini.

Wallahu ‘alam.

Kewajiaban Menuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasulullah Muhammad SAW ke dunia ini untuk melakukan perubahan dari kegelapan menuju terang benderang ( mina dzulumaati ilaa nnuur). Dengan Bekal wahyu-wahyu ilaahi, Muhammad SAW berjuang melawan musuh kebodohan, perbudakan, kekuasaan yang menindas,, penyembahan terhadap berhala dan merubah peradaban yang mengandalkan kekuasaan dan kekuatan menuju peradaban baru yang penuh cahaya ilmu dan semangat pembebasan / kemerdekaan serta penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (haqqul ‘adami).

Sebagai bagian dari komunitas akademika yang hari-harinya dilalui dengan belajar dan mengajar sudah semestinya kita luruskan niat kita dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Ada dua peran  yang sedang kita jalani, yaitu sebagai seorang muslim dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

            Pertama, sebagai seorang muslim menuntut ilmu adalah wajib (tholabul ilma fariidlotun ‘ala kulli muslimin walmuslimat….Hadits Riwayat Imam Baihaqi), oleh karena itu belajar dan mengajar adalah bagain dari ibadah. Kewajiban menuntut ilmu (membaca) juga jelas termaktub dalam ayat pertama yang diturunkan pada malam nuzulul qur’an (17 Romadlon). Selebihnya Rosulullah menganjurkan kita untuk menuntut ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat (uthlubul ‘Ilma Minal mahdi Ila lahd). Dalam hal ilmu duniawi rosulullah juga menganjurkan kita untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri China.

Adapun ilmu yang diwajibkan untuk dipelajari adalah ilmu dunia maupun akhirat, sebagaimana dalam Hadist Nabi Muhammad SAW…

Man ‘aroda addunya fa’alaihi bil ‘ilmi……………..

Man ‘aroda addunya fa’alaihi bil ‘ilmi……………….

Fa man ‘aroda humaa fa’alaihi bil ‘ilmi………………

Barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan dunia maka harus dengan ilmu

Barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan akhirat maka harus dengan ilmu

Barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan keduanya maka harus dengan ilmu

Kedua, sebagai umat manusia khususnya warga Negara Indonesia, menuntut ilmu merupakan bagian dari usaha mengisi kemerdekaan (17 Agustus 1945), melawan kebodohan dan ketertinggalan (ingat!, kebodohan telah menenggelamkan kita selama 350 tahun dalam penjajahan). Selain itu sekarang sebagai warga Negara Indonesia juga telah diwajibkan mengenyam pendidikan dasar 9 tahun secara gratis.

 Keutamaan orang berilmu

Dalam Alquranul kariim Allah SAW sangat memuliakan para penuntut ilmu (Yar fa’illahu alladzii na aamanu minkum walladziinaa uutu ‘ilma darajatun)…Derajat orang beriman yang berilmu lebih tinngi daripada orang beriman yang tidak berilmu. Betapa mulyanya derajat orang berilmu sehingga dalam suatu kisah diceritakan syaitan akan lebih takut kepada orang berilmu yang sedang tidur daripada orang yang shalat tapi tak berilmu.

Ilmu adalah Cahaya (al’ilmu Nuurun), demikian pepatah para Ulama. Dengan ilmu manusia akan berjalan dalam terang benderang, sebaliknya tanpa ilmu manusia akan berjalan dalam kegelapan. Orang –orang yang berilmu akan berbeda cara berfikir, berbicara dan bertingkah laku dengan orang yang  tidak berilmu.

Adab menuntut ilmu

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para penuntut Ilmu. Dalam kitab Ta’limul mutaalim Syaikh Az Zarnuji menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. 1.      Niat dalam menuntut Ilmu, semata-mata menghilangkan kebodohan karena Allah SWT. Hal ini perlu dilakukan karena ilmu pada dasarnya adalah kepunyaan Allah SWT. Selain kita niatkan karena Allah, kita juga senantiasa berdo’a untuk memohon ilmu yang bermanfaat. Allahumma Inna nas aluka ‘Ilman Naafi’an……………….
  2. Selektif dalam memilih Ilmu, guru dan teman.
  3. Ta’dzim/hormat terhadap Ilmu dan guru, Keharusan hormat terhadap ilmu yang sedang kita pelajari dan guru merupakan bagian dari untuk mendapatkan berkah/kemanfaatan dari ilmu itu sendiri. Berkah secara maknawi diartikan bertambahnya kebaikan, sedangkan manfaat dari ilmu adalah adanya perubahan secara kognitif (bertambahnya pengetahuan), psikomotoris (memiliki keterampilan dan afektif (perubahan tingkah laku). Kita akan rugi apabila sudah menuntut ilmu dengan berbagai pengorbanan waktu dan materi, jika ilmu yang kita pelajari tidak memiliki berkah dan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
  4. Bersungguh sungguh dan disiplin. Kesungguhan dan kedisiplinan adalah kunci dari segala hal, termasuk dalam menuntut ilmu. Dalam peribahasa arab disebutkan manjaada wajjaada….siapapun yang bersungguh-sungguh dan tekun maka akan menuai hasil.
  5. Tawakkal kapan seyogyanya tholibul ilmi, berusaha menghasilkan, ramah dan setia terhadap cita-cita, tidak melewatkan waktunya dan istifadah (membuat catatan-catatan baik dalam tulisan maupun benak), waro’ (menjaga makanan dan perbuatan yang dilarang untuk tidak disantap atau dilakukan), apa saja yang membuat orang mudah menghafal dan yang mudah membuat orang gampang lupa.
  6.  Waktu dalam menuntut ilmu, yang terbaik waktu saur/menjelang fajar, sebelum subuh, dan waktu antara maghrib-isya. Sudah diteliti secara ilmiah oleh para ilmuwan bahwa waktu-waktu tersebut adalah waktu dimana otak manusia berada dalam gelombang alpha (kondisi di mana otak manusia sangat mudah menerima ilmu).

Mudah-mudahan bermanfaat

About Jalil

Guru Kimia SMKN 1 Wanayasa Banjarnegara Jawa Tengah Indonesia

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ingat!!!

Author

Mari Berilmu Amaliah & Beramal Ilmiah!

%d blogger menyukai ini: